Blog

Memahami Selak Beluk Makloon

tailors-805544_640

Sharing tentang makloon ini akan dibagi menjadi 6 bagian:

  1. Apa itu makloon
  2. Kenapa harus makloon
  3. Kelebihan dan kekurangan makloon
  4. Cara mencari makloon
  5. Sistem pembayaran makloon
  6. Kontrak tertulis dengan makloon

 

  1. Apa itu makloon?

Makloon berasal dari Bahasa Belanda, definisinya adalah pengerjaan produksi yang dilakukan oleh pihak lain. Pihak lain ini disebut pemakloon, adalah mereka yang memiliki kompetensi usaha di bidang tertentu, misalnya untuk di bisnis fashion, berupa perusahaan konveksi atau  garmen. Istilah lain yang umum dipakai untuk makloon adalah CMT (Cut Make Trim), karena biasanya pengerjaan yang dilakukan makloon/CMT ini hanyalah memotong bahan (cutting), menyablon/ membordir/ memasang aplikasi lain dan menjahit (making), memasang kancing, membuang benang (finishing/ trimming). Namun pengerjaan tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan pengorder. Ada yang mulai dari pembuatan pola, potong, jahit, finishing dan packing. Ada juga yang jahit saja, atau jahit dan finishing saja, atau jahit, finishing dan packing, misalnya. Lain halnya dengan sistem FOB (full order buyer), bahan baku disediakan oleh pemakloon, sampai pengerjaan packing dikerjakan oleh pemakloon. Sehingga pengorder tinggal menjual produknya.

Kemudian bagaimana dengan desain? Desain busana dibuat oleh pengorder bukan pemakloon. Kemudian pemakloon perlu membuat dulu 1 buah sampel (proofing) untuk setiap desainnya yaitu contoh busana yang akan dibuat selanjutnya oleh pemakloon. Setelah sampel disetujui oleh pengorder, lalu pengerjaan busana secara keseluruhan dilakukan. Tidak hanya desain yang nanti menjadi perhatian untuk sampel, tetapi juga kualitas jahitnya.

Untuk bahan dan aksesoris (seperti kancing, renda, ritsleting, dll) biasanya disediakan oleh pengorder. Tetapi ada juga makloon yang menawarkan fasilitas penyediaan bahan dan aksesorisnya. Semua tergantung dari kebutuhan pengorder.

Desain & sampel umumnya disediakan oleh pengorder, namun jika desain dapat disediakan oleh pemakloon pun bisa. Kelebihannya adalah kita tidak perlu repot sama sekali memikirkan proses produksi sehingga waktu, dana, tenaga, pikiran bisa fokus di pemasaran. Namun kekurangannya, desain yang dibuat menjadi tidak eksklusif dan bisa jadi tidak sesuai dengan karakter atau tema yang sedang ingin kita angkat. Tetapi itu tergantung dari kebutuhan juga, kalo memang tidak membutuhkan ekslusivitas, tidak terlalu memperhatikan tema atau karakter, ya tidak apa-apa. Tapi bagi yang ingin mengangkat eklusivitas (limited edition) minimal desain dibuat oleh pengorder, tidak dari pemakloon.

Jika kita belum memiliki penjahit untuk membuat sampel, sehingga yang kita berikan kepada pemakloon dalam bentuk gambar desain & ukuran, hasil sampel maupun ukuran sampel yang dibuat pemakloon biasanya kurang sesuai dengan yang kita inginkan. Untuk menghindari ketidaksesuaian tersebut maka pada saat pemakloon membuat sampel dari gambar desain kita perlu mengamati kerja pemakloon sampai selesai, kita tunggu pemakloon bekerja sampai sampel jadi. Jika pemakloon ditinggalkan saat sedang membuat sampel, biasanya hasil sampel kurang sesuai. Saat ini di Rumah Lentik sudah ada penjahit sampel, dalam pengerjaan sampel diawasi langsung oleh desainernya sehingga jika ada yang tidak sesuai bisa langsung diberi tahu bagian mana yang salah & langsung dapat dikoreksi.

Dalam produksinya pemakloon umumnya menentukan minimal order. Dan biasanya memang dalam jumlah banyak, apalagi jika konveksinya sudah besar. Namun ada juga yang dapat menerima sedikit, hanya saja harganya lebih mahal dan umumnya berlaku untuk konveksi yang masih kecil.

Saat kita punya keinginan untuk merekrut desainer, tukang pola & potong serta penjahit namun kita sendiri tidak memiliki kemampuan dasar menjahit, kunci utamanya adalah, kita sebagai owner harus mengetahui bagaimana caranya menjalin hubungan yang baik dengan calon karyawan baru dan karyawan lama kita. Hal tersebut perlu dicoba karena saat kita sudah merekrut mereka, belum tentu langsung dapat cocok dengan yang kita harapkan. Tapi Insha Allah kita akan mendapatnya. Saat ini Rumah Lentik mempunyai 2 karyawan tetap sebagai desainer yang memang digaji untuk mendesain sampai desain tersebut menjadi produk sampel untuk dimakloonkan.

 

  1. Kenapa harus makloon?

Terutama bagi pebisnis fashion pemula yang ingin membuat produknya sendiri, menjahitkan busananya dimakloon menjadi pilihan yang lebih menarik. Mengapa? Karena biasanya pebisnis fashion pemula, memiliki keterbatasan dana, tempat, dan kemampuan mengelola SDM. Belum lagi kalau pebisnis fashion tersebut tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup di bidang jahit-menjahit.

Selain itu, menjadi pilihan yang tepat untuk para pebisnis fashion yang memfokuskan diri pada pemasaran. Sehingga tenaga, waktu, pikiran, dan dana tidak akan tersita oleh terlalu banyak masalah produksi.

 

  1. Kelebihan & kekurangan makloon :

Kelebihan:

  • Tidak perlu mengeluarkan dana besar untuk membeli mesin (jahit, obras, bordir, dsb)
  • Tidak perlu menyediakan tempat khusus untuk penjahitan
  • Tidak perlu mencari penjahit, pemola & pemotong untuk dijadikan karyawan tetap sebagai penjahit kita
  • Tidak perlu menggaji bulanan untuk penjahit, pemola & pemotong
  • Tidak dibingungkan oleh penjahit, pemola & pemotong yang mungkin saja berulah/bersikap kurang baik
  • Tidak bingung ketika penjahit, pemola & pemotong tidak ada pekerjaan/jahitan karena mereka tetap harus dibayar

Bisa saja kita mempekerjakan penjahit, pemola & pemotong hanya pada saat kita membutuhkan sebagai karyawan tidak tetap, tapi pada saat kita butuh, ternyata penjahit, pemola & pemotong sedang punya kerjaan di tempat orang lain, maka akan menyulitkan kita.

Kekurangan:

  • Tidak mudah mencari makloon yang sesuai dengan yang kita harapkan, apakah di kemampuan, ketepatan waktu pembuatan, besar ongkos jahit, cara pembayaran, bahkan attitude mereka.
  • Tidak bisa memantau setiap saat, hanya pada saat-saat tertentu saja ketika kita/karyawan kita sedang ada jadwal visit ke penjahit makloon kita, sehingga bisa jadi hasil yang kita dapat tidak sesuai yang kita inginkan.
  • Tidak bisa menekan penjahit supaya jahitan cepat selesai, apalagi pada saat mereka sedang mengerjakan order dari orang lain yang lebih besar dari kita.
  • Lamban dan ongkos jahitnya jadi mahal jika harus mengerjakan jahitan satuan, misalnya kalau kita menerima pesanan khusus.
  • Jika pemolaan & pemotongan dilakukan oleh masing-masing penjahit makloon berbeda, maka hasilnya bisa berbeda pula (biasanya perbedaan terjadi pada size busana dan jatuhnya bahan).

Karena itu ada juga yang menerapkan makloon tetapi mempunyai karyawan tetap untuk pemola & pemotong sendiri.

Pengerjaan makloon sampai packing (yang seharusnya QC sudah termasuk di dalam prosesnya), sebaiknya QC tetap kita lakukan lagi. Apalagi jika kita menekankan pada kualitas, QC menjadi proses yang sangat penting. Memang bisa saja point QC ini turut menjadi penekanan dalam kontrak tertulis dengan makloon dan tetapkan juga penalti bagi mereka yang jika ternyata hasil QCnya tidak OK. Tapi rasanya bagi saya tetep lebih mantap jika kita QC lagi di tempat kita. Jika pengerjaan oleh pemakloon tidak sampai packing, itu bisa juga sehingga QC hanya sekali dilakukan oleh pengorder, hanya saja nanti kita perlu melakukan packing sendiri, perlu peralatan untuk packing, seperti steam, plastik baju, dll. Ongkos makloon perlu dikurangi dan harus sesuai dengan biaya proses packing yang kita lakukan. Di Rumah Lentik sendiri, makloon tetap dikerjakan sampai packing, lalu di QC lagi dan tidak perlu di steam ulang, asalkan cara QCnya hati-hati, kemudian langsung dilipat lagi dan hasilnya akan tetap rapih J

 

  1. Cara mencari makloon

Bagaimana mendapatkan penjahit makloon dengan kualitas dan harganya sesuai dengan produk yang akan kita buat?

  • Pasang mata di daerah sekitar rumah kita, siapa tau ada penjahit dan mau menerima makloon, karena semakin dekat lokasi tempat kita makloon semakin memudahkan kita untuk memantau pekerjaan mereka.
  • Bertanya kepada mereka yang sudah terlebih dahulu berkecimpung di bidang fashion dan menggunakan makloon dalam produksinya. Tentunya perlu networking yang luas untuk bisa mengenal dan bertanya kepada mereka yang lebih dahulu masuk di bidang. Salah satunya dengan aktif di komunitas bisa membantu poin ini.
  • Dapatkan informasi penjahit makloon lebih banyak lagi, karena tidak semua informasi yang kita daptkan bisa dengan kriteria yang kita inginkan.
  • Setelah mendapatkan informasi penjahit makloon, hubungi mereka dan tanyakan kesanggupan menjahitkan busana kita.
  • Beritahu kriteria busana kita seperti: pria/wanita, dewasa/anak, bahannya, jumlah jahitan, buat pola/tidak, dengan potong/tidak, tingkat kesulitan desain, kualitas jahit yang diinginkan, harga makloon, dsb.
  • Jika penjahit makloon setuju dengan kriteria kita, minta mereka untuk membuat sampel jahitan sesuai dengan desain & bahan busana kita.
  • Setelah sampel selesai, perhatikan kesesuaiannya dengan desain, kualitas jahitan, kebersihannya, lama pengerjaan, dan enak tidaknya jika dipakai.
  • Jika semua kriteria sudah sesuai atau relatif bisa diterima, negokan sistem pembayaran dan harga makloon.
  • Buat kontrak tertulis dengan makloon.
  • Setelah kontrak tertulis disetujui dan ditandatangani kedua belah pihak, pengerjaan makloon bisa dimulai.

Pada saat kontrak tertulis bisa dicantumkan pula sanksi-sanksi, jadi sebelum ditandatangani surat kontrak dibaca terlebih dahulu oleh pemakloonnya. Jika mereka tidak setuju, bisa dibuat sanksi lain yang bisa disetujui oleh kedua belah pihak. Pada kenyataannya, sanksi-sanksi yang dibuat belum tentu bisa direalisasikan sepenuhnya. Karena  kadang ada rasa “kasian”. Tapi paling tidak, mereka jadi lebih berhati-hati & serius dalam pengerjaannya nanti karena sudah menandatangani kontrak.

Dulu pernah ada pengalaman hasil makloon tidak sesuai, dan pada saat itu belum menerapkan kontrak secara tertulis. Sehingga saya hanya bisa minta tolong diperbaiki semampu mereka.  Ada bahan yang harus diganti, dan mereka mau bertanggung jawab untuk membeli bahan baru untuk mengganti yang tidak sesuai tersebut. Setelah diterapkan kontrak, kelalaian pemakloon berkurang & tidak separah dulu, mungkin karena sekarang mereka jadi lebih hati-hati dalam pengerjaannya.

 

  1. Sistem (cara) pembayaran makloon.

Menurut saya, konveksi yang kita pilih untuk makloon sebaiknya konveksi yang masih kecil yang kemudian bisa jadi besar seiring membesarnya bisnis kita juga. Hal itu karena keterikatan antara pemakloon dengan kita menjadi besar & order yang kita berikan bisa lebih didahulukan.

Saya punya satu konveksi makloon seperti ini.  Awalnya hanya ada satu penjait, karena dulu PO yang saya ajukan pun awalnya sedikit. Tapi seiring dengan meningkatnya permintaan, akhirnya ditambahlah penjait dan mesinnya. Namun konveksi ini belum memiliki pengalaman untuk memanage konveksi sehingga terjadi pengerjaan yang tidak tepat waktu, kualitas tidak konsisten, banyak yang tidak lolos QC, pendataan asal-asalan. Namun dengan semakin banyak pelajaran & evaluasi saat ini konveksi makloon tersebut menjadi tempat makloon terlama saya. Konveksi makloon lainnya yang sudah jadi, malah tidak langgeng, karena agak sulit kita “bentuk”. Sedangkan konveksi makloon terlama itu sudah hafal dan tahu sekali kemauan kita. Jika ada kendala dalam “membentuk” mereka, kita bisa saja belajar ke konveksi lain untuk memperlajari sistemnya, karena kita dapat tertolong dalam masalah produksi & kita secara langsung membantu konveksi maklooon tersebut untuk bisa berkembang lebih baik lagi. Asalkan konveksi makloon tersebut mau diajak belajar. Jika mereka tidak mau belajar, usaha kita untuk membantu mereka akan percuma.

Cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui hasil jahitannya bagus adalah mintalah dibuatkan sampel satu buah sebelum mass production. Jika pengerjaan satu sampel itu cepat & benar maka proses makloon sudah dapat kita anggap mampu mengerjakannya. Kita dapat mengetahui ongkos jahit sepadan dengan hasil jahitan dengan mempertimbangkan kerumitan desain, kesulitan penjahitan berhubungan dengan bahan,dan kualitas jahitnya (semakin berkualitas,semakin sulit,semakin mahal). Patokan ongkos jahit bisa kita ketahui dari berapa ongkos jahit yang dikeluarkan produsen lain untuk busana yang selevel dengan kita. Tapi kita juga perlu memperhitungkan jumlah produksi per desainnya. Jika semakin banyak jumlah produksi, maka semakin murah ongkos jahitnya.

Ada beberapa cara membayar upah makloon:

Pertama, membayar semua upah makloon setelah hasil makloon selesai tanpa menunggu hasil QC. Ini bisa diterapkan kepada penjahit makloon dengan persentasi kesalahan sangat kecil. Disarankan tidak diterapkan pada penjahit yang mana kita baru pertama kali menjahitkan makloon. Saya pernah menerapkan pembayaran ini hanya kepada salah satu penjahit makloon yang sudah 2 tahun menjadi penjahit makloon tetap saya. Dan selama 3 koleksi berturut-turut kesalahannya tidak lebih dari 3%, itupun kesalahan yang masih bisa diperbaiki dengan mudah. Namun sekarang saya tidak lagi menerapkan sistem yang pertama ini.

Kedua, membayar sebagian upah makloon (sampai 50%) setelah hasil makloon selesai sebelum QC & sisanya setelah QC. Terapkan pembayaran ini hanya kepada penjahit makloon yang sudah minimal 1 tahun menjadi penjahit makloon kita. Dan selama 3 koleksi berturut-turut kesalahannya tidak lebih dari 10%.

Ketiga, membayar semua upah makloon setelah QC dilakukan dan pembayaran hanya diberikan untuk yang lolos QC. Sisa upah dibayarkan jika hasil yang tidak lolos QC sudah lolos QC melalui perbaikan. Terutama diterapkan kepada penjahit makloon baru atau penjahit makloon lama jika tingkat kesalahan masih besar.

Bagi yang menerapkan cara kedua dan ketiga, lakukan QC sesegera mungkin agar pembayaran makloon tidak terlalu lama tertunda. Buat kesepakatan sebelum penjahitan untuk hasil jahitan yang salah dan tidak bisa diperbaiki lagi (tulis di kontrak). Pembayaran bisa 50% saja atau tidak dibayar sama sekali atau bahkan dengan penggantian bahan jika kesalahan sangat fatal & jumlahnya sangat banyak. Gagal jahit dalam jumlah besar karena penjahit makloon baru bisa saja terjadi. Jika penjahit tidak bisa mengganti bahan, jangan panik, anggap saja sebagai ongkos belaja r J

Dalam menentukan harga makloon, saya baru mengerti akhir-akhir ini setelah mempunyai penjahit sendiri. Kalau sebelumnya, untuk menentukan harga makloon bergantung pada penilaian penjahit sampel yang saya rekrut. Sedangkan sebelum memiliki penjahit sampel, saya biasanya nego harga dengan pemakloonnya, supaya bisa dapat harga lebih murah. Selain itu saya pun berkonsultasi dengan teman yang sudah lebih dahulu terjun di permakloonan. Jadi sekarang tahu jika ternyata ongkos jahit kita selama ini agak kemahalan hehe… Tapi saya juga memperhatikan pendapatan dari tukang jahitnya, para penjahit yang mengerjakan jahitan ya, bukan yang punya konveksinya. Jangan terlalu menekan ongkos makloon juga, kasihan penjahit yang ngerjainnya J

 

  1. Kontrak tertulis dengan Makloon

Kontrak tertulis dengan makloon sangat perlu dibuat, supaya jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai harapan di kedua belah pihak, bisa diatasi dengan baik. Baik pemakloon maupun pengorder akan lebih teliti serta berhati-hati dalam melakukan tugasnya masing-masing.

Isi dari kontrak tertulis tersebut (sesuai pengalaman saya) adalah sebagai berikut:

a) Pihak-pihak yang terlibat (yang akan menandatangani kontrak, biasanya 2 pihak, pemakloon dan pengorder.

b) Kewajiban dan hak pihak 1 (pemakloon)

  1. Dimulai dari penerimaan bahan untuk sampel
  2. Pembuatan sampel, ongkos, waktu pengerjaan, penalti jika ada keterlambatan atau kesalahan pembuatan sampel.
  3. Penerimaan bahan jahit, dan penyelesaian jika terjadi kekurangan bahan ataupun cacat bahan
  4. Pembuatan pola dilakukan oleh pihak mana
  5. Cara menjahit, kualitas jahitan disebutkan jika memang menjadi persyaratan
  6. Waktu pengerjaan dan penalti jika terjadi keterlambatan dan gagal jahit seperti apa.
  7. Waktu inspeksi ke pemakloon (jika ada)
  8. Jika sampai packing, kondisi packing seperti apa juga disebutkan.

c) Kewajiban dan hak pihak 2 (pengorder)

  1. Dari menyerahkan bahan.
  2. Pengambilan/penerimaah hasil jahit.
  3. Sistem pembayaran.

Jika ada konveksi makloon yang sudah enak dibentuk, namun belum ada kontrak tertulis, salah satunya karena sering merasa kasihan atau menjadi tertekan, kita harus tetap menerapkan hitam diatas putih, karena tujuan dari kontrak ini bersifat baik, disertai juga dengan diskusi agar jika mereka keberatan dengan kontrak yang kita buat, tidak perlu dipaksakan.

Untuk mengedukasi pemakloon bisa dilakukan dengan cara penyampaian kita kepada mereka harus baik, itu yang terpenting. Karena namanya penjahit, memang agak-agak “unik” ya. Tapi insyaAllah bisa kok, kan sebetulnya kita saling membutuhkan  J

Jika pernah mengalami kerugian karena tidak ada kontrak tertulis, anggap sebagai biaya pembelajaran, Insha Allah akan menjadi pahala. Karena bisnis kita bisa naik kelas memang tidak murah, karena dengan biaya yang besar itu akan semakin banyak pula pelajaran berharga yang bisa kita dapat.

Untuk memastikan bahwa proses produksi betul-betul dijalankan dengan baik oleh konveksi bersangkutan, kita perlu melakukan kontrol. Saya menyebutnya ‘inspeksi’ makloon, dalam seminggu bisa dilakukan 1-2 kali, bahkan 2 hari sekali jika perlu, tergantung dari kualitas makloon dan kerumitan desainnya. Setiap akan makloon harus disertai pula surat jalan dan worksheet yang jelas. Semua spesifikasi termasuk ukuran dan petunjuk tertulis di dalam worksheet sampai semua detailnya jelas.

Kontrak tertulis diperlukan juga untuk melindungi pihak pemakloon maupun pengorder, hak & kewajiban kedua belah pihak pun jelas.  Bahkan perjanjian secara lisan perlu didokumentasikan agar tidak ada saling menyalahkan jika terjadi kesalahan produksi. Dan pemakloon sendiri memiliki kesulitan besar dalam handling SDM penjahit. Kadang mereka yang mau jahit minta uang di muka. Barang belum selesai ditinggal sama penjahit pindah ke konveksi lain. Masukan untuk pemakloon, jika penjahit belum selesai mengerjakan jahitannya, sebaiknya tidak kita bayar dulu, kalaupun mereka membutuhkan uang, dapat diterapkan sistem kasbon dengan jobdesk & aturan kasbon yang jelas seperti kondisi seperti apa boleh kasbon & berapa maksimal kasbon yang dapat kita berikan. Adapun hal lainnya sebagai yang sudah memiliki staff atau management jangan lupa menghitung biaya overheadnya seperti untuk membayar listrik, internet (promosi), telepon, gaji staff dll.

Materi ini adalah materi yang disarikan dari kuliah via WhatsApp group TDA Perempuan Bandung (Wonder Women Club Bandung)
Tanggal                 : 23 September 2015
Narasumber       :  Ibu Leny Puspadewi. Owner Rumah Lentik & Manomani
Moderator          : Elis Maidah
Notulen               : Hesty Lestari

Sumber: http://tdabandung.com/memahami-seluk-beluk-makloon.html